Memimpin Sebuah Bisnis Waralaba Dengan Hati

Menjadi pemimpin di sebuah perusahaan memang dibutuhkan sikap yang tegas, serta berintegritas. Karena seorang pemimpin merupakan nakhoda perusahaan. Ia juga merupakan seorang lokomotif yang membawa kemajuan di perusahaan. Kehadirannya menjadikan perusahaan bernyawa, bahkan menjadi pendulum suskesnya perusahaan.

Sebutlah mendiang Steve Job, ketika ia pergi dari Apple, perusahaan ini mengalami masa-masa suram. Tapi ketika Steve kembali lagi ke Apple pada 1997, perusahaan ini pun kembali pada track-nya menjadi perusahaan yang tampil inovatif mengeluarkan produk-produk mutakhir yang disukai masyarakat dunia. Jadi kehadiran pemimpin mutlak diperlukan.

Begitupun di perusahaan franchise, franchisor haruslah seorang yang bisa menjadi pemimpin bagi bisnis franchisenya. Karena bisnis franchise mengandalkan para franchisee sebagai ujung tombak jaringan bisnisnya, maka menjadi pemimpin di perusahan franchise sedikit berbeda.

Sikap tegas memang diperlukan, begitupun dengan aturan yang diterapkan. Para franchisee harus mematuhi semua standar yang diberikan franchisor. Namun memimpin dengan hati atau lead by heart tidak bisa dihilangkan. Karena dalam membangun bisnis franchise, franchisor harus berkolaborasi dengan para franchiseenya.

Lalu apa bedanya? Di perusahaan biasa seorang pemimpin mungkin mudah melakukan pendekatan dengan para bawahannya. Sebut saja misalnya dengan divisi marketing, finance, general affair, IT, dan lain sebagainya. Karena mereka adalah karyawannya sendiri yang digaji sendiri.

Namun berbeda dengan gaya memimpin bisnis di franchise. Di bisnis franchise, franchisor tidak hanya melakukan pendekatan dengan karyawannya di headquarter, akan tetapi dia juga harus melakukan pendekatan dengan para franchisee yang notabene para investor yang masing-masing beda karakter. Dan ini yang hemat saya tidak mudah. Apa sebab? Karena karakter seorang franchisee berbeda dengan karyawan. Seorang franchisee itu tidak hanya bekerja, tapi juga menanamkan investasinya. Jadi pendekatannya harus benar-benar by heart.

Contoh konkritnya dalam memungut royalty fee. Ini gampang-gampang susah. Tidak sedikit para franchisor yang susah memungut royali fee dari franchisee. Saking susahnya, sampai-sampai ada franchisor yang memutus kontrak kerjasamanya dengan franchisee.

Di sisi lain, ada beberapa franchisor yang mudah memungut royalty fee. Mereka punya cara dalam melakuan pendekatan, yaitu lewat hati. Ketika dia mendatangi franchisee tidak melulu bicara soal kerja, tapi bisa dengan curhat atau kadang membicarakan sesuatu tidak ada kaitannya dengan bisnis. Dengan cara ini ternyata membuat franchisee merasa nyaman dan dekat secara hati dengan franchisor. Kalau sudah begitu ujung-ujungnya francisee akan merasa “tidak enak hati” jika tidak membayar kewajibannya, Pendek kata, hal-hal membuat kedekatan hati dengan franchisee perlu dibina sejak sekarang.

Nah untuk membuat kedekatan hati dengan franchisee menurut saya harus dengan emosi. Intinya harus mau turun ke bawah atau Turba” kata istilahnya para pemimpin Astra Indonesia. Franchisor harus sesekali membangun hubungan di luar kerja, karena kadang urusan dalam bisnis itu tidak selalu soal teknis, tapi non teknis pun banyak. Dan hal semacam ini lah yang juga harus dipecahkan para pemimpin bisnis.

Para franchisor yang sukses di Indonesia saya lihat gaya kepemimpinanya menerapkan model emotional relationship. Artinya mereka membangun relasi bisnis dengan hati, mengedepankan kekeluargaan. Jika ada beberapa franchiseenya sedang tidak berkinerja baik, para franchisor harus memaklumi dan mengerti, tetapi tetap wajib memberi solusi. Tidak lantas cuek dan menuntut royalty fee. Begitu pun sebaliknya, bila para franchiseenya sukses maka sebagai franchisor harus memberi apresiasi untuk lebih membangkitkan semangat dan motivasi bisnis mereka. Karena dengan begitu mereka merasa kerja kerasnya dihargai oleh franchisor. Sehingga tidak menutup kemungkinan nantinya mereka akan men-share pengalaman sukses kepada franchisee-franchisee yang lain.

Jadi, perusahan franchise di Indonesia itu menurut saya cocoknya jika dipimpin oleh leader yang bisa membangun emosional brand. Saya tidak bisa menyebutkan contoh, tapi banyak franchisor yang sukses membangun jaringan bisnisnya karena menerapkan emotional retaltionship atau lead by heart .

Berikut ini saya berikan beberapa tips yang bisa Anda lakukan sebagai franchisor untuk membangun gaya kepemimpinan yang lead by heart.

  1. Lakukan pertemuan bulanan dengan para franchisee. Dalam pertemuan itu Anda bisa mengobrol dengan franchisee soal keluarga, pendidikan,hiburan, dan lainnya di luar obrolan bisnis.
  2. Ciptakan komunikasi yang intens antara franchisee. Jangan selalu mengandalkan manager franchise, tapi ownernya sendiri yang komunikasi. Dengan begitu franchisee merasa dihargai dan diperhatikan.
  3. Sesekali franchisor mengajak para franchiseenya tour bersama ke suatu wilayah. Baik itu lagi raker atau sekedar traveling.
  4. Memberikan penghargaan kepada para franchisee yang berpretasi dengan menggelar gathering. Itu dilakukan untuk menambah kedekatan sekaligus menghargai prestasi mereka.
  5. Berempati jika ada franchisee yang terkena musibah. Layaknya keluarga, jika ada salah satu franchisee sakit, franchisor juga harus merasakan musibah mereka.

Mungkin cuma itu sedikit tips dari saya.Intinya untuk bisa menjalin kedekatan hati bisa dilakukan dengan banyak cara. Yang penting Anda disiplin dan konsisten pada diri sendiri. Semoga bermanfaat dan salam franchise!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *