Lagi! Jika Ingin Membeli Franchise, Ini Catatannya

Bisnis franchise memang sedang mengalami perkembangan yang luar biasa. Tumbuh suburnya merek-merek baru, dan semakin masifnya perkembangan brand-brand existing adalah signal yang sangat positif untuk industri ini ke depannya. Apalagi dengan dibukanya era Masyarakat ekonomi ASEAN, saya yakin grafiknya akan membumbung tinggi.

Di sini, kecermatan dan kecerdasan franchise buyers diuji. Apa pasal? Tidak semua franchise akan sesuai impian dan ekspekstasi anda. Perlu adanya pendalaman dan perhatian serius sebelum Anda benar-benar memutuskan memilih merek A, B, atau C. Continue reading “Lagi! Jika Ingin Membeli Franchise, Ini Catatannya”

Pahamilah Prospektus Franchise

Sebagai calon pembeli franchise, Anda wajib menanyakan atau bahkan meminta prospektus franchise dari franchise buruan Anda. Mengapa? Bagi saya secara pribadi, prospektus franchise adalah salah satu point of view bagi franchisee, apakah franchise yang dipilihnya nanti termasuk perusahaan yang memiliki reputasi baik atau tidak. Jangan sampai seperti membeli kucing dalam karung. Transparansi dalam prospektus bisnis fanchise sangat penting bagi calon franchisee yang ingin meminang bisnis franchise. Continue reading “Pahamilah Prospektus Franchise”

Cara Bisnis Waralaba Menjadi Ekspansif

Franchisor tentunya mengharapkan seluruh franchiseenya bisa berkembang dan sukses seperti dirinya. Pun demikian, Franchisee mana yang tidak ingin outletnya berkembang? Berkembang tidak hanya di tatanan perkotaan yang sudah sesak dengan kompetisi. Namun juga mampu menembus Kabupaten dan Kecamatan. Menarik untuk disimak, bahwa dewasa ini antuasiasme masyarakat daerah sangat tinggi.

Dari perbincangan saya dengan beberapa Franchisor, arah ekspansi bisnis memang mereka arahkan ke Kabupatan atau Kecamatan. Luar Pulau jawa juga menjanjinkan potensi yang luar biasa besar seperti Kalimantan, Sulawesi, Bahkan Papua. Continue reading “Cara Bisnis Waralaba Menjadi Ekspansif”

Franchise Buyer Harus Pahami Prospektus Franchise

Dalam beberapa kali kesempatan kunjungan ke beberapa pameran franchise, saya menemukan fenomena yang hampir serupa. Seorang calon franchise buyer yang bertanya kepada saya secara serus perihal penting, bolehkah bertanya, atau meminta prospektus franchise dari bisnis yang menjadi incarannya. Di sisi lain ia juga mengeluhkan, ada beberapa brand yang tidak menyiapkan prospektus ketika ia memintanya.

Ini sebuah hal yang menarik. Pasalnya, sebagai calon pembeli franchise, anda wajib menanyakan atau bahkan meminta prospektus franchise dari franchise buruan anda. Mengapa? Bagi saya secara pribadi, prospektus franchise adalah salah satu point of view bagi franchisee, apakah franchise yang akan dipilihnya termasuk perusahaan yang memiliki reputasi baik atau tidak. Jangan sampai Anda berada dalam situasi seperti membeli kucing dalam karung. Transparansi dalam prospektus bisnis fanchise sangat penting bagi calon franchisee yang ingin meminang bisnis franchise. Continue reading “Franchise Buyer Harus Pahami Prospektus Franchise”

Kiat Membeli Sebuah Waralaba

Usaha franchise merupakan salah satu pilihan bagaimana kita memulai suatu usaha atau berbisnis dengan membeli usaha franchise kita tidak perlu bersusah payah membangun bisnisnya dari awal karena kita sudah mendapatkan duplikasi usaha yang sudah berjalan dan terbukti menguntungkan

Membeli usaha franchise bisa jadi merupakan cara terbaik dalam memulai usaha dibandingkan dengan membuka usaha sendiri yang sangat penuh resiko dan penuh perjuangan yang tidak mudah dengan membeli usaha franchise kita mengambil jalan pintas untuk memulai usaha karena sistem dan prosedur menjalankan usaha sudah dipersiapkan oleh si pemberi usaha franchise atau kita sebut franchisor. Continue reading “Kiat Membeli Sebuah Waralaba”

Mengelola Bisnis Franchise

Berbisnis itu sering dianalogkan memasuki dunia peperangan. Kita perlu membangun kekuatan, kemudian melakukan penyerangan, dan akhirnya menguasai medan perang serta mempertahankannya.
Mengelola Bisnis Franchise.
Sering kita mendengar keluhan sulitnya mengelola bisnis franchise. Franchisor mengeluhkan perilaku para franchiseenya yang ‘nakal’ dan mau seenaknya saja. Para franchisee mengeluhkan franchisornya yang tidak memberikan ‘support’ yang cukup dan menelantarkan mereka.
Dari pengamatan yang mendalam didapatkan bahwa inti permasalahannya adalah mengenai ‘pemahaman pengelolaan bisnis (franchise)’.

Continue reading “Mengelola Bisnis Franchise”

Menentukan Franchise Fee Dan Royalty Fee

Bagaimana cara menghitung dan menentukan harga FRANCHISE FEE dan ROYALTY FEE?

Kebijaksanaan menetapkan harga pada umumnya dilakukan melalui salah satu dari 3 metode PRICING POLICY atau kombinasi ketiganya:

MARKET ORIENTED METHOD

Yaitu metode menetapkan harga dengan mengacu pada harga yang sudah ditawarkan oleh para kompetitor. Dengan menyadari potensi yang dimiliki dan mengacu pada harga yang sudah ditetapkan oleh kompetitor maka bisa dirancang harga FRANCHISE FEE atau ROYALTY FEE yang akan diterapkan.

CUSTOMER ORIENTED METHOD

Yaitu kebijakan menetapkan harga dengan berorientasi pada MINAT BAYAR (willingness to pay) dari pasar yang ada. Misalnya  menawarkan bisnis ini di Sulawesi, mungkin masyarakat di sana bukan tidak memiliki uang,  tetapi mereka mempunyai pandangan nilai wajar (dan minat membayar) terhadap bisnis yang ditawarkan lebih rendah dari pandangan pemilik bisnis,  maka harga dari penilaian masyarakat/pasar itulah yang dapat dijadikan pertimbangan untuk menetapkan harga.

COST ORIENTED METHOD

Yaitu penetapan harga dengan cara menghitung terlebih dahulu biaya-biaya (baik produksi maupun operasional) yang perlu dikeluarkan, baru kemudian menentukan HARGA JUAL yang bisa menutupi BIAYA + KEUNTUNGAN yang ingin didapatkan.

Menentukan Franchise Fee dan Royalty Fee dapat dilakukan dengan kombinasi metode di atas.

Hal yang PERLU DIINGAT  adalah, berapapun harga franchise fee dan royalty fee yang sudah ditetapkan sebaiknya memperhitungkan agar unit usaha Penerima Franchise (Franchisee) yang menjalankan unit bisnisnya TETAP MEMILIKI POTENSI KEUNTUNGAN DAN PENGEMBALIAN MODAL (Break Even Point = BEP) yang baik.

Sebaliknya, Franchise Fee dan terutamanya Royalty Fee yang diterima Pemberi Franchise (FRANCHISOR) akan memberikan keuntungan, dan bahkan PASSIVE INCOME yang baik bagi Franchisor.

Kemitraan dan Franchising

Kemitraan Bisnis bisa dilakukan dengan berbagai bentuk, seperti:

1. Joint venture
2. Kerjasama modal
3. Reseller
4. Keagenan
5. Licensing
6. Direct selling
7. Operator management
8. Multi Level Marketing
9. Franchising (sebagai salah satu alternatifnya)

Pada kemitraan dengan OPERATOR MANAGEMENT misalnya pada usaha hotel atau rumah sakit, pihak mitra melakukan set up perusahaan hotel atau rumah sakitnya sendiri. AKAN tetapi AGAR memiliki peluang yang baik di pasar, mereka menggunakan JASA OPERATOR MANAGEMENT HOTEL berikut NAMA jaringannya. Kita ambil contoh: Sheraton Hotel. Di ini bisnis DIMILIKI oleh MITRA dan pihak operator management diberi imbalan MANAGEMENT FEE.

Contoh lain adalah kemitraan PENGGUNAAN TEMPAT. Seperti yang mungkin dilakukan beberapa brand franchise (KFC, Starbucks, dan lain-lain). Pihak mitra menyediakan lokasi yang sesuai dengan kriteria pemilik brand. Kemudian pemilik brand melakukan investasi dan mengoperasikan bisnisnya sendiri. Pihak mitra TIDAK MEMILIKI usaha tersebut. Pemilik brand yang memiliki usaha tersebut. Mitra pemilik tempat mendapatkan BAGI HASIL dari usaha pemilik brand. Continue reading “Kemitraan dan Franchising”

Bisnis Konsep Vs Bisnis Model

Business Model yang standar akan sangat memudahkan melakukan franchising dengan sukses. Kendalanya, seringkali ada saja Business Model yang tidak mapan standarisasinya karena Business Conceptnya belum terstruktur.

Sebagai konsultan franchise, dalam membimbing klien yang akan memfranchisekan bisnisnya, kami kerap melakukan konfirmasi terhadap business model yang akan diduplikasi dengan franchising. Business Model yang standar akan sangat memudahkan melakukan franchising dengan sukses. Kendalanya, seringkali ada saja Business Model yang tidak mapan standarisasinya karena Business Conceptnya belum terstruktur.

Saya ingin ulas sekali lagi topik mengenai Business Concept dan Business Model ini dalam kaitannya dengan Franchising. Saya akan coba merumuskan pemahaman Business Concept secara sederhana. Kantor konsultan franchise kami mendifinisikan Business Concept sebagai: “Gabungan gagasan/ide setiap kegiatan dalam bisnis yang terintegrasi”. Misalnya:

(1) Dari seorang pengusaha, ide bisnisnya adalah menjual ayam goreng tepung,

(2) Tampilan/desain outletnya akan dibuat dengan gaya Jepang,

(3) Cara memasaknya ditampilkan terbuka sehingga bisa dilihat oleh pelanggan,

(4) Peralatan masaknya menggunakan alat-alat tradisional,

(5) Gagasan untuk suplai ayamnya bekerjasama dengan koperasi-koperasi desa, dan seterusnya dan seterusnya.

Gagasan-gagasan atau ide-ide ini dapat diintegrasikan/disusun dan distrukturkan menjadi KONSEP. Atau kami menyebutnya Business Concept. Mungkin belum detil, tetapi semua ide dari proses-proses dan bidang-bidang yang terkait sudah bisa diceritakan.

Jika kita coba mendetilkan Business Concept ini menjadi lebih nyata, maka hasilnya akan menjadi sebuah Business Model yang standar. Business Model yang standar itu akan terdiri dari:

Standar Bentuk, seperti: Lokasi, ukuran bangunan, desain, bahan bangunan, peralatan, organisasi, jumlah orang, jumlah dan ukuran ruangan, dan lainnya; serta

Standarisasi Proses, seperti: proses Pemasaran, proses Operasional, dan proses Administrasi serta keuangan.

Detail-detail Standarisasi Bentuk di atas, kalau kita rincikan dan konversikan dalam bentuk angka (uang) akan menggambarkan Jumlah Investasi dari bisnis model tersebut.

Sedangkan Standarisasi Proses di atas, bila kita rincikan (misalnya: kita detailkan cara melakukan launching, cara promosi, cara melayani tamu, dan lain-lainnya) dan konversikan ke angka (uang) akan memberikan gambaran mengenai Biaya Pengeluaran (overhead) setiap bulannya.

Dari proses standarisasi bentuk dan proses tersebut di atas, kita dapat melakukan simulasi bisnis tersebut dengan metoda cost oriented, artinya kita dapat melakukan simulasi target penjualan berdasarkan biaya-biaya yang sudah didetailkan. Misalnya: Jika kita sudah mengetahui berapa jumlah investasi yang diperlukan, maka kita akan dapat memperkirakan lama pengembalian Investasi dari potensi pendapatan yang kita targetkan. Atau, jika kita sudah mengetahui proyeksi pengeluaran biaya bulanan kita, maka kita akan dapat menargetkan penjualan bulanan kita agar kita bisa mendapatkan keuntungan yang diharapkan. Kelanjutan proses ini akan memudahkan kita membuat proyeksi usaha.

Kaitan pembentukan Business Model di atas dengan bisnis franchise, adalah:

  1. Jika kita dapat mendetilkan setiap proses dari pembentukan Business Model tersebut, maka sebenarnya kita mempunyai proses “Mastery Bisnis” yang berguna untuk membimbing para franchisee (penerima franchise) kita.
  2. Semakin standar Business Model yang dibentuk, maka akan semakin mudah untuk dilakukan duplikasi kepada franchisee.
  3. Dalam mengelola bisnis franchise, akan semakin efektif jika kita melakukan monitoring kepada Business Model yang standar.

Seperti apa contoh Business Model yang standar itu?

Misalkan saja kita membuka usaha bisnis franchise restoran, mungkin kita akan mempunyai beberapa Business Model: ada Business Model dengan bentuk lokasi di ruko, ada Business Model dengan bentuk lokasi di Mal, atau ada juga Business Model dengan bentuk lokasi kios, dan lain-lain. Setiap standarisasi bentuk akan merupakan satu Business Model.

Dari setiap standar bentuk tersebut, masing-masing dibuatkan proses-proses kegiatan yang standar juga; yaitu proses-proses kegiatan Pemasaran, Operasional dan Administrasi/ Keuangan.

Sebelum kita Franchisekan bisnis kita, maka rumuskan Business Concept dan Business Model yang standar.

Syarat Sebuah Usaha Bisa Di Waralabakan

Berbicara tentang peluang usaha, maka salah satu pintu gerbang untuk membuka keran peluang usaha yang bagus ialah dengan memfranchisekan usaha. Banyak contoh bisnis yang menuai kesuksesan dengan cara mewaralabakan bisnis. Lalu, timbul pertanyaan, kapan sebuah usaha bisa mulai di waralabakan?

Lazimnya sebuah bisnis, maka produk yang dijual harus bisa diterima oleh customer. Dalam hal ini, waralaba yang dijual harus memenuhi beberapa ketentuan sehingga para pemburu bisnis waralaba bisa melirik peluang usaha yang dibuka. Apa saja itu? Continue reading “Syarat Sebuah Usaha Bisa Di Waralabakan”