Pemilik Bisnis Harus Suka Perang

Didalam buku the art of war – seorang Jenderal Cina bernama Sun Tzu, mengatakan untuk dapat mengalahkan musuh (kompetitor) adalah dengan mengetahui sepak terjang musuh kita.

Perang di Jalur Gaza yang sedang ‘memanas’ membuat banyak orang mengutuk kalangan tertentu. Sampai di negara kita sendiri banyak sekali yang juga ingin berpartisipasi di dalam situasi perang disana dengan bentuk menjadi relawan untuk medis sampai mau menjadi salah satu pejuang melawan negara yang dipandang lebih kuat. Menariknya kondisi seperti ini sudah terjadi dari beratus-ratus tahun lalu dimana manusia tidak bisa lepas dari yang namanya ‘perang’. Pola perang atau kalau saya boleh menyebut dengan ‘strategi-perang’, sangat sistematis dan membentuk suatu kesamaan dengan sistem manajemen bisnis. Paling mudahnya saja di dalam dunia militer dikenal nama Komandan Lapangan atau Commanding Officer yang kalau di dalam dunia bisnis biasa disebut sebagai Chief Executive Officer. Continue reading “Pemilik Bisnis Harus Suka Perang”

Keuntungan Menjadi Seorang Franchisee

Membuat bisnis dapat tumbuh menjadi besar tentunya membutuhkan strategi dan teknik bisnis yang memadai. Salah satu cara untuk membuat bisnis dapat tumbuh kembang ialah dengan mewaralabakan bisnis anda. Konsep waralaba atau franchise diakui sebagai suatu sistem yang ampuh dalam mempercepat pertumbuhan bisnis. Sebab, franchise merupakan satu konsep untuk memperluas koneksi dan jaringan.

Karenanya, dengan mewaralabakan satu bisnis maka peluang untuk menjadikan bisnis tersebut menjadi besar akan semakin terbuka lebar. Yang diuntungkannya pun dalam hal ini bukan hanya franchisor sebagai pemegang merek semata. Para mitra atau franchisee pun memiliki berbagai keunggulan dengan membeli usaha waralaba.

Adapun keunggulan membeli bisnis waralaba antara lain :

  1. Franchisee dapat menggunakan brand franchisor selama masa perjanjian franchise yang telah disepakati bersama. Merek yang sudah tinggi ekuitasnya berpotensi lebih besar dalam memenangkan persaingan merebut customer dibanding dengan memulai bisnisnya sendiri.
  2. Membeli satu merek franchise sama halnya dengan membeli sebuah sistem. Sistem disini mencakup manajemen, keuangan, pemasaran, alur pasokan dan logistik serta sumber daya manusia.
  3. Adanya bantuan pelatihan yang dilakukan oleh franchisor sebelum outlet satu waralaba dibuka dan setelah dibuka.
  4. Franchisor melakukan dan memberikan pendampingan terhadap franchisee. Hal ini berbeda jika membangun brand sendiri. Artinya, franchisor pun turut berpartisipasi atas kesuksesan satu merek yang telah dibeli oleh franchisee.
  5. Franchisor akan mentransfer pengalamannya dalam mengelola gerainya sehingga kendala-kendala yang terjadi di lapangan relatif lebih mudah teratasi dengan baik.

Dari penjelasan diatas maka menjadi seorang franchisee memiliki berbagai macam keunggulan ketimbang membangun brand sendiri. Dengan begitu, bisnis akan semakin mudah menjadi besar dan franchisee pun mendapatkan pasokan sistem yang memadai dari franchisor. Selamat Berwaralaba!

Continue reading “Keuntungan Menjadi Seorang Franchisee”

Jalan Untuk Meningkatkan Sales

Setiap tahun khususnya di awal-awalnya banyak franchisor yang mulai mengadakan pelatihan terhadap franchisee nya. Tentu saja, tujuannya adalah untuk meningkatkan performa franchisee yang under perform. Karena sejatinya, produktifitas sebuah perusahaan franchise 90% ditentukan oleh kinerja franchisee.

Ini memang merupakan PR besar yang harus diperhatikan oleh setiap franchisor guna menyamakan frekuensi untuk menggapai GOAL di tahun 2017. Sebab tugas seorang franchisor adalah bagaimana mensukseskan setiap gerai franchise yang sudah dibuka.

Namun pertanyaannya adalah, seberapa kuat komitmen franchisor dalam mensukseskan setiap franchise nya?

Dalam sebuah kesempatan kami sering melihat banyak sekali gera-gerai franchise yang sepi pembeli, bahkan ada beberapa gerobak yang tergeletak tanpa penghuni dan tanpa adanya aktifitas penjualan. Ini merupakan problem serius yang harus dibenahi para franchisor, karena jangan sampai outlet booth dan gerainya tanpa penghuni tapi brand atributnya masih tetap bertengger.

Tentu bukan hanya problem outlet yang sedang “sekarat” saja yang menjadi tanggung jawab franchisor, namun outlet franchisee yang masih eksis namun tidak perform juga harus menjadi tanggung jawabnya.

Dari berbagai pertemuan dengan franchisee, beberapa problem yang sering timbul dari cerita mereka antara lain; Gerai sepi pengunjung dan pembeli, Omset gerai waralaba kecil dan tidak bisa menopang biaya overhead, Omset tidak bergerak atau cenderung stagnan, Omset bagus tapi bisnis tidak untung alias rugi.

Lalu yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana Anda sebagai franchisor menyikapinya? Saya melihat ada dua hal yang bisa dilakukan, antara lain:

Pertama, Observasi permasalahan yang timbul dari faktor internal. Permasalahan internal lazimnya bermula dari SDM. Hal yang kritikal mengenai SDM adalah sistem penggajian dan kompensasi success fee bagi tim penjualan. Ini pernting, karena membangun rasa memiliki dan kompentensi setiap SDM merupakan langkah awal untuk melakukan pembenahan. Jika Anda sudah memiliki frekuensi yang sama dengan SDM, tentunya akan semakin mudah bagi Anda membangun budaya dan etos kerja guna mencapai sebuah target.

Masih terkait masalah internal. Sebagai Owner, Anda juga mesti cek hasil laporan keuangan perusahaan. Anda mesti amati betul setiap transaksi keluar guna memastikan efisiensi dari setiap gerai waralaba. Hal ini penting, karena banyak sekali gerai waralaba dengan omset tinggi namun pengeluarannya juga tidak terkontrol. Sehingga akan sangat mempengaruhi profit usaha waralab Anda. Untuk mengamati transaski yang keluar, Anda wajib melakukan ceklist dan buat bujeting khusus. Dengan begitu, staf keuangan Anda akan memiliki acuan untuk melakukan pengeluaran uang.

Kedua, observasi permasalahan eksternal, terutama menyangkut Local Marketing Plan. Hal ini penting, karena Lokal Marketing menyangkut bagaimana seorang franchisee bisa memasarkan produk atau jasa bisnis Anda. Sebab produk dan jasa Anda tidak bisa berjalan sendiri ke customer.

Dalam sebuah buku instant cashflow ada kerangka pemikiran yang menarik dari Brad Sugar, pendiri Action Coach untuk meningkatkan penjualan dan profit bisnis. Kerangka tersebut terdiri dari:

  • Leads (Calon Pelanggan): Jumlah calon pembeli potensial yang akan bertransaksi di bisnis kita. Kalau saya terangkan di bisnis franchise, jelas dalam sebuah gerai kita perlu memperbanyak calon pembeli yang datang ke outlet kita. Bagaimana caranya? Kita bisa membuat berbagai program untuk menarik pelanggan. Karena masyarakat Indonesia suka yang gratis kita bisa buat program GRATIS. Artinya setiap pembelian nilai transaksi tertentu gratis produk tertentu. Leads, kita bisa tingkatkan melalui berbagai cara, menyebarkan brosur, sms, e-mail, iklan, banner, spanduk, baliho, dll.
  • Conversation Rate : Prosentase orang yang membeli dibanding yang tidak membeli. Contohnya jika ada 10 orang datang di gerai franchise Anda dan Anda berhasil menjual hanya kepada 3 orang saja maka tingkat kesuksesannya adalah 30%. Ini menjadi acuan bagi Anda untuk menentukan cara bagaimana meningkatkan jumlah leads atau calon prospek pelanggan Anda sehingga transaksi yang akan diharapkan akan tercapai.
  • Pelanggan: Berapa jumlah pelanggan yang akan Anda dapatkan melalui berbagai program promosi tersebut. Lalu Anda harus cari tahu rata-rata transaksi setiap pelanggan di gerai franchise Anda, pastinya kita bisa ukur omset dan profit yang akan diraih.

Contoh sederhana dari ke-3 kerangka tersebut: Ketika kita menargetkan omset satu hari senilai Rp. 2.000.000,-, dengan rata-rata orang berbelanja senilai Rp. 50.000,-, maka kita membutuhkan 40 customers.

Untuk mendapatkan 40 customers, katakan success ratenya 50% dari orang yang datang akan berbelanja, maka kita perlu Leads sejumlah 80 calon customers yang datang setiap hari. Lalu bagaimana untuk mendapatkan 80 orang untuk datang ke gerai kita? hal ini bisa kita lakukan dengan berbagai cara, bisa melalui Program Marketing, Local Promotion, dan lain-lain. Akhir kata, mudah-mudahan catatan “The Way to Increase Sales” ini akan membawa kemajuan untuk bisnis Anda. Selamat berbisnis.

Continue reading “Jalan Untuk Meningkatkan Sales”

Waktunya Mentransformasi Brand Franchise

Transformasi secara sederhana berarti mengubah bentuk. Lalu apa hubungannya dengan bisnis franchise? Secara khusus maksud tranformasi disini ialah dengan mengubah gaya kerja dari bisnis franchise. Transformasi bisnis di bidang franchise beraneka ragam, setidaknya ada 6 hal yang diperlu ditransformasi.

Namun, latar belakangnya bisa jadi disebabkan tiga faktor, pertama dari adanya kenaikan UMP; kedua, disebabkan tantangan banyaknya brand asing yang mulai masuk pasar Indonesia, artinya kita sudah tidak bermain dengan lokal lagi, tapi sudah bermain dengan brand-brand asing. Lalu ketiga, karena rendahnya omset atau rendahnya success rate franshisee yang lemah di bawah 80%.

Bila berkaca dari para pemain-pemain franchise hebat yang masuk nominasi Anugerah Brand Indonesia 2017 kemarin sebenarnya brand-brand lokal memiliki kualifikasi untuk berkompetisi dengan waralaba asing. Karena rata-rata mereka sudah melakukan perubahan yang cukup besar, sehingga diharapkan kedepan akan ada sekitar 500 brand lokal yang mampu bersaing dengan brand franchise asing.

Walaupun demikian, waralaba lokal masih perlu melakukan suatu transformasi, agar mampu menjadi pemenang di tengah ketatnya persaingan franchise global. Ada 6 hal yang mendasar yang perlu dilakukan transformasi; Pertama, transformasi mindset franchisor. Seorang franchisor harus costomer dan franchisee fokus, artinya franchisor harus tahu betul bagaimana membuat untung gerai franchisee. Disamping itu juga bersama-sama membangun produktivitas agar pelanggan tetap loyal dan mau terus memilih brand-nya, sehingga bisa meningkatkan pertumbuhan gerai dan omset. Bagi franchisee, Jangan pula melulu harus mengandalkan penuh franchisor. Seorang franchisee juga dituntut untuk lebih kreatif mengembangkan bisnis.

Kedua, transformasi penggunaan sistem IT. Bila selama ini cuma baru bebera brand saja yang menggunakan sistem teknologi ERP dan CRM dalam mengelola outlet. Kedepan diharapkan semua brand lokal sudah menggunakannya, sehingga memudahkan franchisor dalam mengontrol performa seluruh outletnya. Ketika ada problem dan penurunan omset, dengan IT berbasis terpusat bisa langsung diantisipasi dengan cepat. Selain itu franchisor harus punya databese customer-nya, ini akan memudahkan dalam komunikasi, managerial dan untuk meningkatkan sales.

Ketiga, transformasi dalam management. Organisasi franchise harus benar-benar di-manage dengan baik. Transformasinya ke arah perbaikan SDM yang harus berkinerja positif. Dibuat suatu standar yang kuat sehingga franchisor bisa mengendalikan jaringan bisnisnya, bisa membuat organisasi lebih lincah, ramping, dan cepat bergerak. Yang paling terpenting memiliki kesamaan visi dan misi. Bila perlu dilakukan re-training ulang orang-orang yang ada di dalamnya.

Beberapa pemain franchise sudah melakukan re-training ulang ini, baik di level manajer, supervisor, staff, dan karyawan, sehingga gerakannya lebih optimal dari sebelumnya.

Keempat, transformasi managemen support. Bagaimana membuat franchisor mampu membangun managemen support dengan tingkat komplain rendah. Mulai dari proses pengiriman  produk, support, mentoring oulet, training ulang, dan bagaimana mengatasi problem solving di lapangan. Ketika ini diberlakukan, saya yakin franchesee akan merasa happy. Dari sisi customer service juga perlu, selama ini customer service franchise relatif masih banyak yang under perform, khususnya franchise lokal.

Kelima, transformasi di bidang marketing. Franchisor perlu melakukan support marketing dengan berskala nasional, baik program harian atau bulanan. Juga menggarap moment-moment hari besar nasional seperti hari ibu, hari kartini, hari pahlawan, dan lain-lain. Selain itu franchisor harus mulai masuk ke digital marketing seperti facebook, twitter, dan youtube (yang masih sangat jarang). Perlu melakukan terobosan ke arah sana.

Keenam, tranformasi konsep gerai. Yang paling mencolok dalam bisnis adalah konsep desain gerai. Perlu ada perubahan dalam konsep gerai. Kalau kita mau bersaing, ya, yang paling tampak fisik outlet.  Automaticly outlet harus berubah lebih dinamis, tampilannya lebih menarik, meyakinkan, dan nyaman untuk bertransaksi.

Bila keenam hal itu bisa dilakukan untuk melakukan performa terbaik, saya menaruh harapan besar brand franchise Indonesia bisa menuju Brand World Class Company, paling tidak punya brand yang bisa sejajar dengan brand yang sudah ternama seperti Mc Donald’s atau KFC. Selamat berbisnis!

Continue reading “Waktunya Mentransformasi Brand Franchise”

Memimpin Sebuah Bisnis Waralaba Dengan Hati

Menjadi pemimpin di sebuah perusahaan memang dibutuhkan sikap yang tegas, serta berintegritas. Karena seorang pemimpin merupakan nakhoda perusahaan. Ia juga merupakan seorang lokomotif yang membawa kemajuan di perusahaan. Kehadirannya menjadikan perusahaan bernyawa, bahkan menjadi pendulum suskesnya perusahaan.

Sebutlah mendiang Steve Job, ketika ia pergi dari Apple, perusahaan ini mengalami masa-masa suram. Tapi ketika Steve kembali lagi ke Apple pada 1997, perusahaan ini pun kembali pada track-nya menjadi perusahaan yang tampil inovatif mengeluarkan produk-produk mutakhir yang disukai masyarakat dunia. Jadi kehadiran pemimpin mutlak diperlukan.

Begitupun di perusahaan franchise, franchisor haruslah seorang yang bisa menjadi pemimpin bagi bisnis franchisenya. Karena bisnis franchise mengandalkan para franchisee sebagai ujung tombak jaringan bisnisnya, maka menjadi pemimpin di perusahan franchise sedikit berbeda.

Sikap tegas memang diperlukan, begitupun dengan aturan yang diterapkan. Para franchisee harus mematuhi semua standar yang diberikan franchisor. Namun memimpin dengan hati atau lead by heart tidak bisa dihilangkan. Karena dalam membangun bisnis franchise, franchisor harus berkolaborasi dengan para franchiseenya.

Lalu apa bedanya? Di perusahaan biasa seorang pemimpin mungkin mudah melakukan pendekatan dengan para bawahannya. Sebut saja misalnya dengan divisi marketing, finance, general affair, IT, dan lain sebagainya. Karena mereka adalah karyawannya sendiri yang digaji sendiri.

Namun berbeda dengan gaya memimpin bisnis di franchise. Di bisnis franchise, franchisor tidak hanya melakukan pendekatan dengan karyawannya di headquarter, akan tetapi dia juga harus melakukan pendekatan dengan para franchisee yang notabene para investor yang masing-masing beda karakter. Dan ini yang hemat saya tidak mudah. Apa sebab? Karena karakter seorang franchisee berbeda dengan karyawan. Seorang franchisee itu tidak hanya bekerja, tapi juga menanamkan investasinya. Jadi pendekatannya harus benar-benar by heart.

Contoh konkritnya dalam memungut royalty fee. Ini gampang-gampang susah. Tidak sedikit para franchisor yang susah memungut royali fee dari franchisee. Saking susahnya, sampai-sampai ada franchisor yang memutus kontrak kerjasamanya dengan franchisee.

Di sisi lain, ada beberapa franchisor yang mudah memungut royalty fee. Mereka punya cara dalam melakuan pendekatan, yaitu lewat hati. Ketika dia mendatangi franchisee tidak melulu bicara soal kerja, tapi bisa dengan curhat atau kadang membicarakan sesuatu tidak ada kaitannya dengan bisnis. Dengan cara ini ternyata membuat franchisee merasa nyaman dan dekat secara hati dengan franchisor. Kalau sudah begitu ujung-ujungnya francisee akan merasa “tidak enak hati” jika tidak membayar kewajibannya, Pendek kata, hal-hal membuat kedekatan hati dengan franchisee perlu dibina sejak sekarang.

Nah untuk membuat kedekatan hati dengan franchisee menurut saya harus dengan emosi. Intinya harus mau turun ke bawah atau Turba” kata istilahnya para pemimpin Astra Indonesia. Franchisor harus sesekali membangun hubungan di luar kerja, karena kadang urusan dalam bisnis itu tidak selalu soal teknis, tapi non teknis pun banyak. Dan hal semacam ini lah yang juga harus dipecahkan para pemimpin bisnis.

Para franchisor yang sukses di Indonesia saya lihat gaya kepemimpinanya menerapkan model emotional relationship. Artinya mereka membangun relasi bisnis dengan hati, mengedepankan kekeluargaan. Jika ada beberapa franchiseenya sedang tidak berkinerja baik, para franchisor harus memaklumi dan mengerti, tetapi tetap wajib memberi solusi. Tidak lantas cuek dan menuntut royalty fee. Begitu pun sebaliknya, bila para franchiseenya sukses maka sebagai franchisor harus memberi apresiasi untuk lebih membangkitkan semangat dan motivasi bisnis mereka. Karena dengan begitu mereka merasa kerja kerasnya dihargai oleh franchisor. Sehingga tidak menutup kemungkinan nantinya mereka akan men-share pengalaman sukses kepada franchisee-franchisee yang lain.

Jadi, perusahan franchise di Indonesia itu menurut saya cocoknya jika dipimpin oleh leader yang bisa membangun emosional brand. Saya tidak bisa menyebutkan contoh, tapi banyak franchisor yang sukses membangun jaringan bisnisnya karena menerapkan emotional retaltionship atau lead by heart .

Berikut ini saya berikan beberapa tips yang bisa Anda lakukan sebagai franchisor untuk membangun gaya kepemimpinan yang lead by heart.

  1. Lakukan pertemuan bulanan dengan para franchisee. Dalam pertemuan itu Anda bisa mengobrol dengan franchisee soal keluarga, pendidikan,hiburan, dan lainnya di luar obrolan bisnis.
  2. Ciptakan komunikasi yang intens antara franchisee. Jangan selalu mengandalkan manager franchise, tapi ownernya sendiri yang komunikasi. Dengan begitu franchisee merasa dihargai dan diperhatikan.
  3. Sesekali franchisor mengajak para franchiseenya tour bersama ke suatu wilayah. Baik itu lagi raker atau sekedar traveling.
  4. Memberikan penghargaan kepada para franchisee yang berpretasi dengan menggelar gathering. Itu dilakukan untuk menambah kedekatan sekaligus menghargai prestasi mereka.
  5. Berempati jika ada franchisee yang terkena musibah. Layaknya keluarga, jika ada salah satu franchisee sakit, franchisor juga harus merasakan musibah mereka.

Mungkin cuma itu sedikit tips dari saya.Intinya untuk bisa menjalin kedekatan hati bisa dilakukan dengan banyak cara. Yang penting Anda disiplin dan konsisten pada diri sendiri. Semoga bermanfaat dan salam franchise!

Continue reading “Memimpin Sebuah Bisnis Waralaba Dengan Hati”

Cara Membuka Bisnis Waralaba Di Kota Kecil

Prospek bisnis waralaba Tanah Air sesungguhnya kian menjanjikan, mengingat sektor ini adalah salah satu cara untuk percepatan pengembangan bisnis. Dan tentu saja ini terkait dengan program pencetakan wirausaha-wirausaha baru serta dapat memperkuat pengembangan ekonomi di daerah-daerah yang membutuhkan unsur-unsur pengembangan yang lebih modern.

Namun, timbul sebuah pertanyaan besar. Apakah bisnis waralaba hanya bisa untung manakala gerai waralaba suatu brand hanya dibuka di kota besar? Bagaimana jika membuka bisnis waralaba di kota kecil yang jauh dari ibukota? Muncul isu bahwa membuka bisnis waralaba di luar kota besar akan mendapatkan kerugian? Continue reading “Cara Membuka Bisnis Waralaba Di Kota Kecil”

Wujudkan Franchise Yang Lebih Baik

Bisnis franchise tumbuh sangat signifikan setiap tahunnya, baik yang membeli atau yang menawarkan. Sayangnya, jumlah gerai waralaba yang ditutup juga tidak sedikit. Dibawa kemana franchise kedepan?

Berbicara bisnis franchise di tanah air, dari tahun ke tahun terus mengalami pertumbuhan yang signifikan. Hal tersebut bisa dilihat dari setiap pameran franchise di Jakarta, yang selalu diikuti oleh ratusan peserta dan dibanjiri oleh ribuan calon investor.

Namun meski dibanjiri calon investor, nyatanya bisnis dengan total investasi triliunan rupiah ini, menggelinding dengan sendirinya, seakan tanpa arah yang jelas. Mau dibawa kemana franchise Indonesia kedepan? Continue reading “Wujudkan Franchise Yang Lebih Baik”

Jangan Menjadi Tuna Digital

Memakai kacamata silinder boleh dikatakan baru terjadi setelah 39 tahun di kehidupan saya. Agak risih dan aneh pertama memakainya dan banyak yang melihat agak berbeda. ” Itu kacamata gaya, ya ?”. Ejek salah satu teman baik saya. Tapi ini betul kacamata silinder karena kalau saya tidak menggunakannya, alhasil penglihatan jadi agak buram.

Pengalaman memakai kacamata pertama kali ini mengingatkan saya kepada beberapa fenomena pertama kalinya smartphone dikeluarkan di Indonesia. Wah semuanya membeli telepon genggam pintar ini kalau perlu yang semahal dan se’gaya’ mungkin. Waktu itu saya masih setia memakai merek besutan negara Canada. Masih merasa ingin ikut menjadi salah satu trend pada masa itu dan makin ke sana saya pun ikut membeli alat komunikasi yang saking canggihnya terkadang bisa membuat kita rabun.
Continue reading “Jangan Menjadi Tuna Digital”

Lebarkan Bisnis Waralaba Anda Hingga Mancanegara

Di era modern dengan konsep digital seperti sekarang ini, sebuah bisnis waralaba sejatinya bisa memanfaatkan momentum ini untuk mengembangkan bisnisnya hingga ke mancanegara. Namun, dalam praktiknya terkadang pebisnis waralaba Tanah Air cenderung ingin bermain aman dengan hanya mengembangkan bisnisnya di Indonesia, padahal jalan untuk membuka pintu bisnis waralaba di mancanegara makin besar seiring dengan perkembangan digital yang makin besar. Continue reading “Lebarkan Bisnis Waralaba Anda Hingga Mancanegara”

Empat Ancaman Tersembunyi Dibalik Bisnis Mapan

Banyak perusahaan Indonesia terancam gagal dan mungkin tidak bisa bertahan untuk 5 tahun kedepan. mengapa bisa begitu? karena ancaman-ancaman ini kadang sudah sangat jelas didepan mata tetapi banyak yang tidak menyadarinya.

Seperti kadang kita mencari kunci atau handphone kita, padahal ada tepat di pangkuan kita sendiri, tetapi malah kita mencari-mencari di tempat lain dan menghabiskan waktu 5 sampai 15 menit.

Apalagi jika anda pemakai kacamata, pasti paling tidak, anda pernah mengalami kehilangan kacamata. Padahal kacamata persis kita taruh dibagian atas dahi kepala. *psssstt… saya sendiri kadang mengalaminya…

Tetapi memang begitulah manusia, kadang kita tidak bisa mengetahui atau melihat seluruh ancaman, apalagi di dalam bisnis.

Pengalaman 8 tahun saya dalam membantu 130 perusahaan lebih secara 1-on-1 membuat saya cukup beruntung untuk bisa melihat perusahaan sebagai orang luar dan disanalah saya menemukan 4 ancaman ‘tersembunyi’ di bisnis yang sudah mapan.

Apa itu bisnis mapan?

Ialah suatu bisnis jika dalam bisnis tersebut memiliki tiga poin ini :

  • Memiliki lebih dari 30 hingga 80 karyawan
  • Memiliki omset penjualan per tahun berkisar antara 3 sampai 7 Miliar Rupiah
  • Dalam masa transisi seorang pengusaha yang mau membangun tim manajemen yang terdiri dari manager-manager yang bagus


4 Ancaman Untuk Bisnis Yang Sudah Mapan

  1. “Kerja keras saja cukup untuk bisnis”

itulah yang sering saya dengar untuk pengusaha di bisnis yang sudah mapan. Banyak berpikir bahwa selama saya kerja keras seperti jaman dulu ketika bisnis ini dari nol, maka untuk bisnis yang sudah mapan pun, kerja keras bisa membawanya ke tingkat berikutnya.

Kabar buruknya adalah pemikiran ini kurang tepat untuk tingkatan bisnis mapan. Di tingkatan bisnismapan, pengusaha harus tahu apa yang harus sebenarnya dikerjakan. kata kuncinya: “Kerja benar” bukan “kerja keras”.

2. “Saya mau mencari atau merekrut orang seperti saya”

Mereka berusaha keras mencari orang seperti si pengusahanya sendiri. Ini pemikiran yang kurang tepat karena 2 hal

Sangat susah dan sangat mahal (dalam segi waktu dan uang atau gaji). artinya sangat tidak praktis strategi ini

    • kalaupun memang ketemu dan orang tersebut mau bekerja menggantikan anda. Anggaplah orang ini 2 tahun bekerja menggantikan anda, dan tiba dia geger otak atau kena penyakit “stroke”, apa yang terjadi?

Pemikiran yang lebih tepat dan enak adalah bagaimana seorang pengusaha membuat sistem dan tim manajemen untuk menggantikan dirinya.

Anda biasanya harus digantikan oleh 3 sampai 5 orang. tetapi jika anda memiliki 5 pengganti, 2 nya hilang, anda masih memiliki sisa berapa orang.

3.“Sekarang aja bagus bisnisnya, ngapain berubah? ngapain aneh-aneh, coba ini itu?”

Banyak orang mengatakan pada saya: “bisnis saya bagus kok sekarang, profit bagus, waktu kerja pun bisa diatur dengan enak, kenapa berubah? cari penyakit?”

Perlu diingat, segala sesuatu didunia ini tidak ada yang pasti, semuannya pasti berubah kecuali kematian dan pajak. Kalau anda cermati perusahaan yang ternama di Indonesia dan di Amerika, perusahaan yang profitable, mereka tidak pernah puas dengan keadaan bagus. Malahan kalau semua bagus, CEO nya biasanya khawatir. kenapa khawatir? karena mereka sadar bahwa jika semua bagus dan tidak ada yang salah, berarti perusahaan tersebut tidak berani dan tidak cukup cepat berinovasi untuk menghadapi persaingan.

Sering sekali pengusaha mulai berubah ketika keadaan bisnis sudah jelek dan biasanya sangat susah untuk merubah situati karena ‘nasi sudah jadi bubur’. tetapi justru perusahaan terbaik bisa naik ke tingkat selanjutnya adalah selalu mencari cara untuk lebih baik lagi yaitu dengan cara berubah.

Perubahan-perubahan apa saja yang harus dilakukan? perubahan mana yang belum anda lakukan? saya akan beberkan di seminar bisnis saya miggu depan.

4. Pesta selalu berakhir

Apakah anda pernah menhadiri sebuah pesta? Pesta selalu berakhir bukan? Pernah tidak ke pesta yang tidak pernah berakhir atau selesai? Tidak mungkin donk… selalu ada awal dan akhir…betul, begitu juga dengan “pesta bisnis”. Maksudnya apa? Ya.. seperti pesta, berbisnis ketika keadaan ekonomi dan pertumbuhan bisnis semua terasa begitu mudah, menyenangkan, enak, enjoy, dan bisnis apapun mudah.

tetapi karena pesta selalu berakhir, maka keadaan bisnis “enak” juga selalu ada akhirnya. Apa yang bisa dilakukan? Ini hanyalah hukum alam bisnis… hampir tidak bisa dilawan. TETAPI….. ada yang satu hal penting yang pengusaha bisa lakukan untuk bersiap-siap…

CARILAH PESTA LAINNYA SEBELUM PESTA YANG SEKARANG BERAKHIR!